Mengenal 5 Design Thinking Process dalam UI/UX

design thinking process
Photo by Leon on Unsplash

Design thinking merupakan salah satu metodologi desain yang menyediakan pendekatan berbasis solusi untuk memecahkan masalah. Metodologi ini sebenarnya telah mengalami evolusi dari berbagai bidang yang luas, seperti teknik, bisnis, sampai arsitektur. Tidak ketinggalan, ada dua profesi lain yang ikut membutuhkan penerapan konsep ini, yaitu UI dan UX Designer. Secara umum, setiap konsep user atau pengguna ini akan menggunakan lima tahapan dalam design thinking process dalam menghasilkan produk semaksimal mungkin.

Sebagai UI/UX Designer, design thinking memang punya pengaruh besar dalam proses pembangunan user experience dan desain user interface. Dewasa ini, sudah banyak industri yang beralih menuju pendekatan yang berpusat pada manusia sebagai user. Hal ini diwujudkan dari produk-produk yang sudah jadi maupun masih dikembangkan agar dapat melayani user dengan baik. Alhasil, perancangan produk harus mengusung nilai-nilai yang tidak jauh dari kemudahan bagi para user.

Berdasarkan kondisi tersebut, sangat penting untuk memahami filosofi dan bentuk praktik dari proses design thinking. Mengingat metodologi ini memang berguna untuk memecahkan masalah kompleks yang terjadi di sekitarmu. Entah solusi yang berguna dalam lingkup perusahaan, negara, sampai koneksi antarbenua.

Apa Itu Design Thinking?

Design thinking merupakan seperangkat prinsip pendekatan langsung untuk memecahkan masalah desain yang berpusat pada manusia. Konsep ini cenderung mengutamakan kebutuhan emosional, kognitif, dan estetika dari user. Design thinking juga melibatkan pembingkaian ulang dari masalah, menciptakan ide dari sesi brainstorming, serta mengadopsi pendekatan langsung dalam sesi pembuatan prototype dan testing. Sebagai layanan yang berpusat pada manusia, perusahaan didorong untuk mengarahkan produk, layanan, dan proses internal menjadi lebih baik.

Dalam penerapan design thinking, kamu perlu menyatukan keinginan dari sudut pandang manusia dengan yang layak secara teknologi maupun ekonomi. Suatu perusahaan diharapkan mampu menciptakan perubahan pola pikir sederhana dan mengatasi masalah dari berbagai solusi baru. Selain mengambil tindakan yang diperlukan, seorang UI/UX Designer juga perlu memahami pertanyaan agar dapat menjawabnya dengan tepat.

5 Design Thinking Process

Empathize

Tahap pertama dari design thinking process adalah mendapatkan pemahaman empatik dari masalah yang ingin dipecahkan. Empati sangat penting bagi proses UI/UX design karena mampu mengesampingkan asumsi dan cenderung mengumpulkan wawasan soal kebutuhan user. Dalam proses ini, tidak ada salahnya untuk bekerja dan berkonsultasi dengan ahli lainnya. Tujuannya untuk mengetahui lebih lanjut seputar bidang yang menjadi pusat perhatian pembuatan desain.

Dalam tahapan empathize, kamu akan terlibat pada aktivitas untuk memahami pengalaman sekaligus motivasi user terhadap suatu produk. Sejumlah informasi yang berhasil terkumpul bermanfaat selama melaksanakan proses design thinking berikutnya. Lakukan secara objektif untuk mempertimbangkan segala kemungkinan tentang user dan kebutuhannya. Setidaknya, berikut aktivitas yang akan kamu lakukan dalam proses empathize:

  • Observasi: Memahami alur, arah, serta hal-hal yang menjadi fokus utama dari para user
  • Wawancara kualitatif: Wawancara one-on-one dengan beberapa user untuk memahami perilaku mereka terhadap topik yang kamu jelajahi

BACA JUGA: Mengenal Empathy Map dalam UX Design Thinking

Define

Tahap ini merupakan bentuk pengumpulan informasi yang diambil dari proses empathize. Di sini, kamu akan menganalisis hasil pengamatan kemudian menyintesiskannya untuk menemukan masalah inti yang berhasil diidentifikasi. Kamu harus berusaha mendefinisikan masalah sebagai pernyataan yang tetap berpusat pada manusia. Tahapan ini membantu UI/UX Designer mengumpulkan ide-ide hebat dalam membangun fitur, fungsi, dan elemen yang memungkinkan. Tujuannya untuk memungkinkan sampai menyelesaikan masalah yang sekiranya dialami oleh user.

Untuk memudahkan tahapan define, kamu dapat memahami lebih lanjut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Kesulitan atau hambatan yang dihadapi oleh user?
  • Pola apa yang kamu amati?
  • Apa masalah besar yang perlu ditangani oleh tim?

Ketimbang menyatakan, “Kita perlu…”, gantilah dengan sudut pandang user menjadi, “Orang dewasa di Kota A perlu…”. Aktivitas utama dalam fase define adalah pengelompokkan. Kelompokkan ide bersama-sama dengan tim sampai kamu menemukan tema yang dominan atau paling menonjol untuk diperhatikan. Manfaatkan pengamatan, kutipan, maupun gagasan yang diperoleh selama masa penelitian.

Ideate

Pemahaman yang kuat mengenai user dan pernyataan masalah yang jelas dapat membantu designer dalam mengerjakan solusi potensial. Tahapan yang ketiga ini adalah tempat untuk menuangkan kreativitas terhadap prototype yang akan dihasilkan. Kamu dan segenap rekan UI dan UX Designer akan mengadakan sesi khusus agar dapat menghasilkan lebih banyak ide dan sudut pandang baru. 

Beberapa teknik yang biasa digunakan untuk mengeksekusi proses ideate adalah mindmapping, brainstorming, hingga skenario roleplay. Dengan latar belakang pengolahan fase ideate tersebut, pikirkan hal-hal outside the box untuk mengidentifikasi alternatif dan solusi terbaik. Akhir dari fase ini diharapkan membantu penyelidikan dan pengujian terhadap ide-ide yang telah kamu keluarkan. Diskusikan ide yang sudah dipresentasikan kemudian terima masukan dari setiap individu yang ada di dalam tim.

Prototype

Sekarang adalah waktunya untuk menghasilkan sejumlah versi produk dengan fitur yang spesifik. Tujuannya memudahkan penyelidikan solusi masalah yang dihasilkan pada design thinking process sebelumnya. Prototype dapat dibagikan dan diuji dalam ruang lingkup tim, departemen lain, maupun sekelompok orang di luar tim UI/UX design. Fase ini tergolong masa percobaan agar dapat memperoleh solusi paling relevan dengan adanya masalah user.

Solusi yang diimplementasikan pada prototype satu persatu akan diselidiki, diterima, ditingkatkan, diperiksa ulang, atau ditolak berdasarkan pengalaman user sebagai acuan. Melalui trial and error, solusi yang paling mungkin dapat muncul dalam pemecahan masalah yang teridentifikasi. Peningkatan terhadap berbagai versi prototype sudah jelas dilakukan lewat feedback yang diterima. Prototype mempresentasikan keberhasilan untuk mencapai pemahaman yang sebenarnya antara produk dengan user.

BACA JUGA: Do’s and Don’ts dalam Dunia UI/UX Design

Test

Saatnya untuk menggabungkan semua pekerjaan dan informasi untuk menguji produk di tahapan akhir. Tujuan dari tahapan ini adalah mendefinisikan kembali satu atau lebih masalah kemudian menginformasikannya kepada pihak yang memahami user. Penting kamu ketahui bahwa proses test masih menjadi tahapan yang interaktif. Kamu akan mendengar sejumlah hal dari user, seperti yang dilakukan pada proses empathize. Bedanya, kamu menunjukkan prototype supaya memperoleh feedback soal pemecahan masalah terhadap yang sedang terjadi.

Selain itu, proses test juga sangat penting karena segala hal adalah tentang user yang menggunakan produk tersebut. Tidak menutup kemungkinan jika kamu harus beranjak untuk kembali ke tahapan sebelumnya. Selain memperoleh wawasan baru, bisa jadi kamu menghasilkan ide-ide baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Design thinking process ternyata dapat menjadi prinsip yang digunakan oleh UI/UX Designer dalam membangun suatu produk perusahaan. Tahapan yang telah tersedia mampu menjadi acuan terbaik dalam membantu memecahkan masalah user ketika menggunakan produk tersebut. Dengan begitu, user dapat merasakan pengalaman dan visual terbaik yang mampu memudahkan pekerjaannya masing-masing.

Ingin belajar lebih lanjut mengenai design thinking melalui pembelajaran teori dan praktik yang efektif? Belajar sekarang di SkolaClass UI/UX Design dan jadilah seorang profesional di bidangnya hanya dalam 3 bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *